Dimulai; Abadi (1/2)

dimulai; abadi poster

written by amusuk

Cast: Baekhyun, Chanyeol | Genre: Friendship, Family | Rating: PG-13 | Length: Twoshot (1/2)

Ada yang aku mulai dan tak ingin kuakhiri.

a/n: written for WhitePingu95. Ini pertama kalinya aku nulis satu chapter sepanjang ini setelah sekian lama (haha) makasih buatmu.

—————-

PART I:

ADA YANG HILANG

—————

2015

Byun Bangseok dan Byun Eunjung memandang tak berkedip putra mereka yang belum lama turun ke meja makan.

Nak, kau baik-baik saja?” tanya Bangseok yang sangat khawatir.

M-Makannya pelan-pelan saja, sayang,” kata Eunjung, masih terpana.

Cling. Piring di depan bocah lelaki itu tandas.

Ayah, Ibu, ayo kita berangkat!” katanya bersemangat.

Baekhyun baru menghabiskan makan paginya—roti lapis dan segelas susu manis—dalam lima menit. Ia tidak ingin dan tidak boleh terlambat karena hari itu merupakan hari pertamanya masuk SD. Selain karena Baekhyun sendiri yang bersemangat, orang tua Baekhyun juga tidak ingin putra semata wayang mereka mendapat sedikit pun impresi buruk dari para guru maupun murid. Meskipun sejujurnya itu terdengar berlebihan.

Orang tua Baekhyun ikut mengantar Baekhyun—ayahnya, karena memang hendak bekerja, sementara ibunya, demi hari pertama yang menurutnya istimewa. Dalam perjalanan mengendarai mobil, Baekhyun bertanya polos pada ibunya apa yang tengah mengganggunya. “Bu, apa aku akan mendapat teman?”

Byun Eunjung tersenyum, mengetahui bagaimana sifat putranya, dan mengelus puncak kepala Baekhyun. “Tentu kau akan mendapatkannya. Pasti ada salah satu di antara sekian banyak orang.” Baekhyun mengernyit, tidak memahami maksud ibunya. Ibunya mendesah. “Pokoknya, kalau nanti kau berkenalan, jangan lupa ajak dia ke rumah.”

Baekhyun mengangguk saja.

2041

Kantor tempat Baekhyun bekerja sangat sibuk. Tidak mengherankan sebab banyak pengacara hebat di sana yang menjadi curahan tempat meminta tolong dari orang-orang yang membutuhkan. Terutama pada senior-senior Baekhyun.

Sementara itu Baekhyun tengah menangani kasus perkreditan bank harian yang tampaknya menyangkut sejumlah nama. Ia baru mendapatkan laporan lengkapnya hari ini dari rekannya yang mendadak cuti karena istrinya sakit sehingga ia menyerahkan kasusnya pada Baekhyun, tentu saja dengan pemberitahuan sebelumnya.

Sang pengacara muda itu pun membalik lembaran demi lembaran berisi nama-nama dan latar belakang beserta biodata mereka. Buruh, pegawai, guru, pegawai, guru, polisi— Alis Baekhyun terangkat naik. Ia pun membaca detailnya. Matanya membulat ketika membaca barisan kata itu.

Kepala Kantor Kepolisian daerah Gongwan.

Park Chanyeol.

Setelah membaca berkas-berkas tersebut, Baekhyun menerima telepon dari pihak yang membutuhkan jasanya; seorang pria bernama Tuan Kim yang menjadi wakil pihak yang tertuduh tersebut.

Sehabis itu Baekhyun mulai menelepon nama-nama di daftar tersebut, mengklarifikasi dan mulai mencari bukti-bukti pendukung kasus bila benar mereka tidak bersalah. Yang ia tahu, kasus ini menyeret sejumlah nama-nama yang pernah menggunakan jasa kredit sang tuan yang kini terlibat masalah dengan orang pemerintahan. Meski tidak langsung terlibat, namun orang-orang dari pihak tertuduh inilah yang menandatangani kertas perjanjian atas nama mereka sendiri. Merasa ditipu, salah satu dari mereka, Tuan Kim inilah yang menelepon teman Baekhyun, hanya untuk memberikan kasusnya pada Baekhyun yang sudah satu tahun bekerja sebagai pengacara.

Di situ ada belasan nama. Jumlah yang cukup banyak untuk kasus semacam ini. Baekhyun mulai menelepon satu per satu.

Setelah menelepon semuanya, Baekhyun menarik napas. Belum selesai. Jalan masih panjang dan masih tinggal satu nama lagi yang akan ia hubungi. Pelan-pelan ia melihat kertas dan layar ponselnya, memastikan tidak ada angka yang salah, lalu ditekannya tombol hijau. Telepon tersambung. Jantung Baekhyun serasa berdegup-degup menunggu panggilan diangkat.

Kemudian terdengar suara berisik. Baekhyun menelan ludah.

Halo, kediaman Park di sini. Dari siapa ya?

Baekhyun harus menutup mulutnya dengan tangan untuk menghindari teriakan histeris yang bisa saja keluar saat itu juga saat mendengar suara yang sudah lama tak terdengar di sekitar.

Byun Baekhyun,” jeda. Tidak ada respon dari Chanyeol. “Pengacara.”

Baekhyun menunggu beberapa lama tidak ada jawaban, tapi ia juga tak mendengar telepon ditutup. Maka ia bertanya lagi, “Halo? Halo?”

Lalu terdengar suara riang perempuan di ujung sana, “Oppa, aku beli es krim nih! Ayo, ayo, Hayi tidak bisa menunggu lagi!” nadanya terdengar manja.

Suara siapa? Baekhyun membatin.

Belum sempat Baekhyun bertanya, terdengar bunyi gemerisik dan sambungan itu pun terputus.

Diputus.

Kenapa

2021

Tahun-tahun berlalu dan hari ini pun Baekhyun mendapati dirinya masih menanyakan pertanyaan yang sama sejak enam tahun silam. Ia dapat menduga apa yang akan terjadi pada dirinya karena lebih suka berkutat dengan buku daripada manusia dan menjadi murid kesayangan guru-guru—meski sampai kini ia masih bingung.

Putra keluarga Byun ini telah berumur 12 tahun sekarang. Ia sudah tidak berangkat sekolah dengan diantar mobil. Tempat ayahnya bekerja berbeda arah dengan SMP Baekhyun sehingga ia selalu naik bus untuk berangkat. Di bus itu Baekhyun bukan satu-satunya murid SMP Deong-Il. Ada tiga anak berseragam sama dengannya, tengah mengobrol. Ia tahu salah satunya yang berkacamata dan bernama Luhan, teman sekelasnya sejak kelas 5 SD.

Sembari memperhatikan mereka, Baekhyun bertanya-tanya, apa yang membuatnya berbeda?

Luhan juga senang berkutat dengan buku dan ia juga selalu ranking dua di bawahnya dulu. Bisa saja ia meraih posisinya di ranking satu kalau Baekhyun lengah, tapi ia tak pernah membiarkan hal itu terjadi. Luhan juga baik pada guru-guru, tidak seperti kedua sahabatnya—yang juga teman SD Baekhyun—yang hobi mengisengi guru dengan bermacam cara.

Apa mungkin semua itu karena tersenyum?

Luhan murah senyum pada siapa saja, bahkan Baekhyun. Orang-orang jadi dekat dengannya dan mudah berbicara dengannya. Sementara Baekhyun, buat apa dirinya tersenyum kalau tak ada seorang pun yang tersenyum padanya? (pengecualian bagi Luhan). Ia rasa tak ada gunanya.

Bagaimanapun juga, ia akan menjalani sekolahnya di sini. Sebab ia dengar SMP Deong-Il memiliki prestise yang tinggi di bidang sains.

SMP Deong-Il itu ramai, penuh tawa dan keributan. Itu kesan yang didapat Baekhyun setelah sebulan berada di sana. Tetapi Baekhyun tidak merasa terangkul dengan limpahan kesenangan itu. Mungkin karena semua orang tertawa di sekitarnya di saat Baekhyun menganggap hal yang diomongkan itu tidak lucu. Atau mungkin karena Baekhyun terlalu keras berusaha untuk menyamakan derai nadanya dengan lingkungan sekitar—seperti Luhan—sampai-sampai tak menyenangkan lagi rasanya.

Lelah berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya, Baekhyun berhenti mencoba tersenyum seperti Luhan.

.

Hari ini Baekhyun pulang terlambat dari biasanya. Gara-gara tidak membawa payung, Baekhyun mau tak mau harus menunggu hingga hujan reda. Ia sempat melihat guru kelasnya membawa payung besar yang cukup untuk dua orang dan Baekhyun tahu pak gurunya tersebut hendak ke halte yang juga dituju Baekhyun. Tetapi ia terlalu malu untuk meminta tolong. Setelah setengah jam menunggu hujan yang tak kunjung berhenti, barulah ia menyesal. Beruntung setengah jam kemudian hujan mereda.

Renyai hujan masih berjatuhan tapi tidak sampai membuat seragam Baekhyun basah ketika ia berjalan meninggalkan bangunan sekolah.

Di tengah perjalanan, hujan tiba-tiba menderas. Membuat Baekhyun terpaksa berteduh di tempat terdekat—kebetulan sebuah convenient store yang ada di sebelahnya. Baekhyun memeluk tas punggungnya di depan, berusaha menghalau dingin agar tak menyerang langsung tubuhnya. Tapi tentu saja itu tak cukup untuk mengusir dinginnya cuaca yang mulai merembes menembus pakaiannya. Akhirnya, ia memutuskan masuk ke dalam toko.

Di dalam ruangan udara juga dingin, tapi tidak lembab dan basah. Baekhyun berjalan ke vending machine di pojok. Label ‘panas’ tertera di baris teratas, membuat Baekhyun memandanginya lama, lalu mengutuk tinggi badannya.

Tak lama kemudian ia merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya.

Butuh bantuan?” Baekhyun dengar. Ia pun menoleh ke sebelahnya. Ada seorang anak laki-laki gemuk berkacamata, dengan seragam yang sama persis dengannya, tersenyum.

.

Sekarang Baekhyun merasa dirinya telah salah membuat keputusan. Harusnya ia tidak senang, bukan, dari awal harusnya ia minta tolong pada penjaga toko. Sekarang ia menggerutu karena tampaknya ada “permen karet” lengket yang tak mau lepas darinya. Permen karet raksasa berjalan tepatnya, dengan label ‘Park Chanyeol’ dan lengan yang bertumpu di bahunya saat ini. Tangan itu cukup berat sehingga membuat Baekhyun kesulitan menegakkan badan. Dan sialnya si Chanyeol ini tidak menyadarinya.

Demi apa, mereka baru berkenalan sekitar lima belas menit yang lalu dan kini Chanyeol berlagak seolah mereka sudah berteman selamanya.

Kapan kau akan pulang?” gerutu Baekhyun, jelas-jelas berwajah cemberut. Baekhyun tidak suka dipeluk kalau bukan dengan orang yang ia kenal baik. Ya memang mereka baru saja berkenalan tapi kontak fisik itu terasa berlebihan.

Kalau kau sudah pulang,” jawabnya, buta akan penderitaan di wajah Baekhyun.

Sebenarnya Baekhyun bukannya tidak kenal Chanyeol sama sekali. Ia tahu Chanyeol ada di kelasnya, tapi masih Baekhyun belum sanggup menghapal, lebih-lebih mengenal, semua murid sekelas satu per satu. Meskipun begitu, bukan berarti Baekhyun mau mengenalnya lebih jauh terlebih setelah apa yang sudah ia lakukan. Okelah, Chanyeol itu ramah dan bersahabat (sepertinya…) tapi di awal-awal saja, sebab di menit berikutnya, Chanyeol benar-benar berubah menjadi seperti kutu, mengganggu dan sulit dilepaskan. Baekhyun sendiri sampai kehabisan cara. Pada akhirnya Baekhyun menyerah dengan usahanya menyingkirkan Chanyeol, ia sudah tidak peduli ulah Chanyeol itu adalah buah kebebalan atau kesengajaan. Pokoknya ia mau pulang. Titik.

Sesampainya di rumah, ia berdoa, sungguh berdoa agar apa yang ia bayangkan akan terjadi tidak akan terjadi dan—

Ah… kau teman Baekhyun!?” teriak Eunjung, si wanita paruh baya yang juga berstatus sebagai Ibu Baekhyun.

doa Baekhyun tidak terkabul.

Eunjung berseru lagi, “Mari, mari masuk sini. Ikutlah makan malam dengan kami, emm…”

Park Chanyeol,” kata Chanyeol, tersenyum manis dan menundukkan kepala memperkenalkan dirinya.

“—Chanyeol. Bagaimana?”

Kalau tidak merepotkan Bibi saja.”

‘Tentu saja tidak!” Eunjung langsung mendorong kedua anak 12 tahunan itu ke ruang makan dengan penuh tenaga. “Jangan malu-malu, ya. Anggap saja rumah sendiri.”

Bangseok yang baru selesai mandi sepulang dari kantor juga langsung sumringah melihat Baekhyun pulang membawa seseorang. “Oh… Oh! Baekhyun bawa teman!”

Baekhyun memutar bola mata, tapi wajahnya memerah. Chanyeol memberikan cengiran polosnya.

Selagi berjalan ke ruang makan, Chanyeol berbisik pada Baekhyun. “Tahu nggak? Sebenarnya Papa menyuruhku berkunjung ke rumah temanku begitu aku mengenalnya. Dari semua orang yang kuajak, baru kamu lho yang mau. Mereka semua nolak mentah-mentah gitu sih,” jelas Chanyeol dengan senyum lebar yang memamerkan gigi putihnya.

Ya iyalah, batin Baekhyun.

Dengan wajah dan cengiran (sok) tak berdosa itu, Chanyeol sukses membuat Baekhyun makin menyesali keputusannya.

.

Sebagai orang tua, Eunjung tahu Chanyeol akan jadi sahabat terbaik untuk Baekhyun.

Meski Baekhyun bersikeras menolak pada awalnya, tidak butuh waktu lama bagi Baekhyun untuk menerima kehadiran Chanyeol. Dan sekali mereka dekat, mereka tidak terpisahkan. Lihat saja, sudah empat tahun mereka mengenal, dan Eunjung tidak bisa tidak melihatnya setiap hari.

Teman Baekhyun yang satu itu aktif, dalam berbagai arti. Dia lebih suka bermain di luar atau beraktivitas yang menggunakan badan. Dia juga lebih suka berinisiatif. Dia punya kepribadian hangat dan ramah.

Sungguh seperti warna yang kontras dengan Baekhyun yang lebih suka bermain dengan tabletnya dibandingkan berinteraksi dengan orang lain. Baekhyun juga tidak peka dengan sekitar. Jadi Eunjung berkesimpulan, Chanyeol akan jadi pengaruh yang baik bagi anaknya. Ia dan Bangseok sepakat soal yang satu ini.

Terlebih lagi, Chanyeol—

Jangan pakai krayonku sembarangan! Kamu kan punya sendiri, tinggal jalan sebentar, terus ambil,” teriak Baekhyun dengan suara cemprengnya.

Mulai lagi.

Kenapa di pagar ini tidak ada lubang ajaib yang bisa tersambung ke kamarku? Kalau gitu kan aku nggak perlu buang-buang tenaga percuma,” kata Chanyeol dengan bibir mengerucut.

Itu sih kamu yang malas. Salahmu sendiri lupa. Kamu kan cuma tinggal jalan 10 meter ke rumahmu,” balas Baekhyun bersungut-sungut.

Ya, Chanyeol adalah anak Park Seunghwan, tetangga baru mereka, tinggal di rumah kontrakan tepat di sebelah rumah keluarga Byun. Mereka hanya tinggal berdua; ayah Chanyeol seorang single-parent semenjak istrinya pergi dari rumah. Kenapa begitu, Bangseok dan Eunjung pun belum tahu karena Seunghwan waktu itu raut wajahnya sudah tidak enak dan mereka berdua juga tidak ingin memperburuk suasana makan malam dan meninggalkan kesan buruk pada tetangga mereka.

Sementara itu, di kamar Baekhyun dua anak kecil tampak meringkuk di atas karpet. Menekuni kertas gambar masing-masing di hadapan mereka.

Kamu lagi gambar apa?” tanya Chanyeol penasaran sambil mengintip gambar Baekhyun. Baekhyun segera menutupi gambarnya secepat yang ia bisa walau itu terlambat. “Yah, aku kan cuma mau lihat, nggak bakal kubakar deh. Sumpah,” kata Chanyeol dengan mimik serius yang tidak digubris Baekhyun.

Ra-ha-si-a. Kamu tuh—”

Waah, ini pinguin? Suka pinguin, ya? Sabi banget. Kamu bakat menggambar, Baek!” seru Chanyeol yang berhasil menyambar kertas dari bawah tangan Baekhyun.

…Ah nggak seberapa kok.” Baekhyun tersipu-sipu. Ia mencondongkan diri untuk melihat gambar Chanyeol; berniat mengalihkan topik. “Kalau ini? Kamu gambar apa?”

Kali ini Chanyeol tersenyum penuh gigi sambil memampangkan kertasnya, “Hayo. Coba tebak.”

Baekhyun menyipitkan mata tertarik, “Mm, perumahan?”

Coba lagi.”

Rumah di lintasan rel?”

Makin melenceng tahu.”

Hint, hint,” pinta Baekhyun.

Jawaban pertamamu tadi sebenarnya hampir.”

Hmm…” Baekhyun tercenung. Sedetik kemudian, “Nyerah deh,” kata Baekhyun. Pundaknya turun. Bocah ini mulai kesal.

Chanyeol yang hanya bisa tersenyum simpul sambil mendengus pun menjelaskan dengan super sabar, “Ini kan rumah kita, Baek. Masa nggak inget sih? Yang ini rumahku,” katanya sambil menunjuk gambar rumah di kanan, “dan yang ini rumahmu,” katanya, menunjuk rumah di kiri. “Terus garis ini tuh pagar depan rumah kita.”

Oh.” Baekhyun manggut-manggut seperti orang bodoh baru diberi contekan.

Bego.”

2041

Semua orang di daftar nama orang yang membutuhkan jasa Baekhyun itu, telah dicoret kecuali satu. Baekhyun menggenggam setir mobilnya kencang dan menghembukan napas. Bagaimanapun juga ia harus melakukannya. Baekhyun tidak mungkin salah kali ini karena ia telah membaca alamat itu setidaknya dua puluh kali sejak pertama kali menerima berkasnya.

Baekhyun memukulkan dahinya ke setir. Sadarlah, Baekhyun, kau adalah pengacara. Jangan libatkan urusan pribadi kalau tak ingin mengacaukan kasus keduamu. Dengan itu, Baekhyun melangkah mantap keluar, dengan dada berdebar gugup.

Ia mengetuk pintu.

Seorang wanita—mungkin berumur 20 tahunan—keluar.

Mencari siapa?” katanya berhati-hati.

Park Chanyeol ada?”

Tunggu sebentar.” Ia menutup pintu. Samar Baekhyun mendengar suaranya memanggil “oppa~ ada tamu!” dengan nada yang terdengar kekanakan. Bagaimana bisa Chanyeol mau dengan wanita manja dan kekanakan? Tapi setelah itu ia menggelengkan kepala. Ia tidak ingin berspekulasi saat ini. Dan pintu itu terbuka lagi, menampakkan Chanyeol, dan wanita tadi mengintil di belakangnya.

Mari masuk.”

Baekhyun mendapati interior ruang tamu itu hangat dan cerah. Itu akibat banyaknya bunga dalam vas yang diletakkan di atas meja, rak sepatu, bufet—di mana-mana. Pasti pekerjaan wanita tadi.

Saat mereka berdua sudah duduk. Chanyeol tampak mengusap-usap tangannya, lalu berteriak ke arah belakang. “Hayi! Buatkan teh!” Lalu ia kembali fokus pada Baekhyun. “Jadi… apa yang bisa kubantu?”

Ah, begini, karena kau tidak datang ke pertemuan bersama kemarin, aku hanya ingin mengabari detail-detail penyelesaian kasus—”

Setengah jam berlalu dan Baekhyun baru menyadarinya. Meski ia ingin berbicara lebih banyak lagi dengan Chanyeol, ada sesuatu yang mengganggunya. Membuatnya ragu. Baekhyun ingin berbicara layaknya teman, bukan pengacara semata. Tapi ia takut, bila ia salah bicara maka Chanyeol akan pergi jauh. Dan kali ini mungkin Baekhyun tidak akan bertemu dengannya lagi.

Dia pacar yang baik. Ramah sekali,” kata Baekhyun yang pada akhirnya memberanikan diri.

Chanyeol menatap Baekhyun bingung, tapi kemudian tatapannya melembut. “Ya. Hayi gadis yang baik.”

Bagus kalau begitu. Kuharap kau tak lupa mengundangku kalau kalian sampai ke pelaminan,” kata Baekhyun, tersenyum lebar.

Tentu saja,” kata Chanyeol tanpa memandang Baekhyun.

Ah, aku masih ada urusan setelah ini. Sebaiknya aku pamit dulu. Dan terima kasih untuk tehnya.”

Chanyeol mengantarnya ke pagar. Saat Baekhyun tersenyum mengangguk dari dalam mobil, Chanyeol membalasnya sama pula. Dan Baekhyun pun berlalu; tak melihat di wajah Chanyeol ada seutas senyum yang berubah sedih. Dan di balik kemudi itu Baekhyun pun tak lagi memampang senyum. Ia menggigit bibirnya, hingga putih.

2022

Hari itu hujan deras. Langit kelabu seolah menangis sejak pagi hingga siang.

Baekhyun bersembunyi di belakang gereja. Berharap tidak ada yang menemukannya. Ia sudah tidak kuat. Setelah masa tidak ada seorang pun di sana, Baekhyun pun duduk dan menundukkan kepala. Menangis. Isakannya tersembunyi di antara renyai hujan. Bahkan di saat hujan mulai mereda, Baekhyun masih belum sanggup meredakan tangisnya.

Ia tidak sadar akan kehadiran langkah-langkah kecil anak laki-laki seumurannya, dengan setelan rapi berwarna serba hitam dari atas sampai bawah, sedang berjalan menuju ke belakang gereja sambil menoleh ke sana-sini. Mulutnya memanggil-manggil, “Baek! Baekhyun! Baek— Oh!”

Teriakan itu sukses membuat Baekhyun mendongak. Tiba-tiba muncul keinginan Baekhyun untuk memalingkan muka, tapi ia tahu sudah terlambat dan percuma saja.

Pipi tembam dan kacamata, dengan tambahan dasi kupu-kupu, Chanyeol berjongkok di samping Baekhyun sambil mengamati wajah sahabatnya itu. “Kamu nangis?”

Ingin menjawab, tapi Baekhyun merasa segenap suaranya terkumpul dan tersumbat di tenggorokan.

Chanyeol maklum, lalu meneruskan, “Kata Papa, laki-laki enggak boleh nangis,” kata Chanyeol dengan sangat pelan. Melihat pundak Baekhyun yang begitu rapuh, ia takut kalau bicara lebih keras lagi dapat membuat Baekhyun terluka.

Baekhyun mengucek-ucek matanya dengan kedua tangan, “Ayah juga pernah bilang begitu. Tapi setelah bilang begitu, Ayah bakal menggendong aku, lalu memutarku di udara supaya aku lupa apa yang udah bikin aku sedih. Sekarang siapa yang mau ngelakuin itu?”

Ada keheningan setelahnya. Baekhyun masih menunduk. Chanyeol termenung.

Setelah itu Chanyeol berdiri. Menarik tangan Baekhyun untuk bangun. Lalu, dengan wajah yang agak tersipu malu, Chanyeol menarik Baekhyun mendekat pada tubuhya seperti sebuah memeluk, lalu memutarnya kencang hingga kaki Baekhyun terangkat dari tanah. Mereka terus berputar. Sebelum ia pusing dan jatuh sendiri—berdua tepatnya, Chanyeol berhenti. Kaki Baekhyun menapak tanah lagi. Lalu Chanyeol pun memegang pundak Baekhyun dan mendorongnya perlahan supaya ia dapat melihat wajah Baekhyun, yang kini tampak bingung menatap sahabatnya.

Dengan lembut Chanyeol berkata, “Aku nggak bisa gendong kamu… nggak kuat… tapi aku bisa meluk kamu dan memutarmu di udara kapan pun kamu butuh. Janji deh,” kata Chanyeol, membusungkan dada dan menaruh satu tangannya di depan dada.

Baekhyun memandangi sahabatnya itu lama. Ia masih terisak, namun sudah berhenti menangis, entah sejak kapan. Setelah dipikir-pikir, itu bukan hal yang buruk Lagipula Baekhyun tidak akan sanggup—tak pernah—menolak kehangatan tangan itu. Tangan hangat yang meraihnya dengan janji persahabatan tanpa meminta imbalan apa-apa selain balasan persahabatan yang kekal.

…Makanya kamu jangan sedih lagi, ya.”

Baekhyun, terisak, mengangguk.

Kasihan Baekhyun.”

Padahal baru umur segini tapi sudah kehilangan ayah.”

Aku dengar ayahnya korban pembunuhan. Padahal dia polisi, galak pula. Siapa sih yang berani-beraninya?”

Dengar-dengar dari orang tuaku sih ayahnya terlibat kasus sama buronan yang paling dicari kepolisian.”

Sisanya Baekhyun tidak mendengar lagi karena ia menulikan telinganya sembari meletakkan kepalanya di atas meja. Di situ ia bisa mendengar denyut jantungnya yang konstan. Dia masih bingung dan belum dapat mencernanya. Yang ia tahu, sekarang ayahnya tidak ada. Tidak akan ada tawa menggelegarnya di meja makan, atau lelucon renyahnya yang membuat Baekhyun tertawa hingga mengeluarkan air mata saking tidak lucunya. Baekhyun tidak tahu mengapa ayahnya meninggal dan ia masih tidak percaya dengan omongan teman-temannya. Belum bisa. Toh, mereka cuma mengatakan ini-itu dari apa yang mereka dengar, dan itu berarti belum tentu benar. Tapi bisa jadi.

Baekhyun memejamkan matanya dengan wajah menelungkup di atas meja. Tapi kemudian ia merasakan seseorang menepuk pundaknya. Ia mengerang malas dan berbalik. Senyum penuh gigi menyapanya.

Baekhyun mencoba tersenyum meski terpaksa. “Yeol… aku lagi ngantuk,” kata Baekhyun dengan suara terseret.

Justru itu, ayo ikut aku,” ajak Chanyeol bersemangat.

Hm? Ke mana?” Baekhyun mengangkat kepalanya dari meja, mulai tertarik.

Sudah ikut aja dulu.”

.

Dari semua hal aneh yang Baekhyun duga akan dilakukan Chanyeol, lagi-lagi Chanyeol melakukan sesuatu yang tidak terduga olehnya. Siapa sangka keputusannya mengikuti Chanyeol karena bosan berada di kelas, membawanya berdiri di sini, di sebuah kebun kecil yang ditanami tomat dan berbagai rempah lain dalam jumlah kecil di belakang sekolah. Baekhyun baru tahu ada tempat seperti ini di sekolah meskipun sudah dua tahun bersekolah di sana.

Masih dengan tatapan heran, Baekhyun bertanya, “Yeol, kita mau ngapain?” tanyanya.

Hah? Masa nggak bisa nebak?”

Tapi—”

Memang kamu belum pernah nyiram tanaman pakai selang?” tanya Chanyeol yang kini menatap Baekhyun lurus. Baekhyun tersipu malu tapi diam saja. “Haha, nggak pa-pa. Waktu pertama ke sini juga aku nggak tahu kok. Paman penjaga sekolah yang mengajari aku,” seru Chanyeol.

Chanyeol pun mengarahkan Baekhyun untuk menyirami seluruh tanaman di situ. Walau sempat kena semprot sendiri karena kecerobohan Baekhyun, mereka berhasil menyirami seluruh kebun yang kecil itu.

Baekhyun memandangi hasil kerjanya. Tetesan air yang bening di atas daun hijau itu tampak indah dan menyejukkan hati. Kebun itu terasa berkali-kali lipat lebih segar.

Ngerasa baikan?”

Baekhyun, masih berusaha mencerna, menoleh ke arah sahabatnya yang tengah memandangnya. Baru setelah itu, ia mengangguk, berusaha menahan sesuatu yang melompat di hatinya. “Lumayan.”

Udah kuduga. Tiap aku ngerasa gerah dan sebel, aku pasti ke sini dan membantu paman menyirami kebun ini. Perasaanku saat melihat seluruh tanaman segar sehabis disiram itu… kayak habis disiram air es juga.”

Baekhyun tersenyum, memandangi kebun itu, “Setuju,” lalu menoleh kepada sahabatnya itu dengan mengepalkan tinju, “makasih, Yeol.” Yang dibalas dengan tinjuan persahabatan di tangan mereka.

2041

Mimpi-mimpi di umur yang panjang, tak lekas pudar. Kenangan yang ingin dilupakan senantiasa meluap ke permukaan, tumpah dari kubah memori, mengalir sampai ke hati. Baekhyun memandangi gambar anak-anak di atas piagam-piagam monoton yang terpajang di dinding kamarnya. Gambar itu terbuat dari goresan-goresan kaku krayon, meski demikian, ia dapat melihat jelas di sana ada tiga figur; seorang wanita di tengah dan dua anak di sisinya yang memegang tangannya.

Itu bukan gambar miliknya. Seseorang yang telah membuatnya; seseorang yang telah menorehkan harapan, meninggalkannya di sini, kemudian pergi membawa sekeping puzzle yang membuatnya tak lagi lengkap.

Kau tahu puzzle masing-masing diri kita telah hilang setengah dan sepertiganya. Lalu kita sepakat untuk menyatukan keduanya ini menjadi satu keutuhan.

Apakah arti keluarga bagimu? Baekhyun bertanya-tanya pada Chanyeol yang hanya ada di pelupuk matanya ketika tidur mulai menguasai dirinya. Membawanya menuju mimpi-mimpi di masa lalu.

Sekarang Ibu punya dua anak!”

Bagaimana rasanya?”

Ibu senang sekali, sayang.”

a/n: karena besok bakal sibuk ngurusin RL, part 2 bakal nunggu lagi, tapi aku usahain jadi kok *kedip* terus ngga tau kenapa baekyeol feel-ku meningkat pesat gegara nulis ini, juga feel buat bikin fic brothership lagi, hehe. terus gegara baca ini berulang kali tiap hari sampe bulukan sendiri, aku ngga tau lagi ini ada feel-nya apa nggak (semoga aja dapet ya ping). dan karena a/n ini udah kelewat panjang, saia akhiri saja ok.

xoxo,

amu

Iklan

8 comments

  1. Awalnya aku rada ga ngeh ama yg 2020 atau semacemnya. Tapi makin ke sini, makin ngerti. *ini aku yg agak lola buat ngerti apa gimana yak 😀

    Huaaa makasih juga buat kmu amu… Sudah membuatkan request-anku :3

    RL itu apa yak? O.o
    Sok atuh amu, buat brothership/friendship lagi 😀

    1. siiiiip

      TENANG INI BELUM BERAKHIR SAYAAANG >:)

      Real Life, hehe, gini dah kalo ikutan diklat. berangkat jam 8 pagi, pulang jam 9 malem. hidup ini…

      ia nanti kalo dapet inspirasi lagi yaa, haha, sejak kapan kamu jadi urang sunda? :’D

      1. huaaaaa ayoo kelariiinn… buat baekyeol bersatuuu :’D

        hidup ini… terasa sangat menyedihkan. sayang engkau tak duduk, di sampingku kawan.. hoohoo~~ *ets keterusan :p
        wah jadi ikutan diklat itu emm banget yah. maremlah istilah jawane -_-

        saya mah terkadang orang sunda (sedikit), kadang agak minang (juga sedikit), tapi jowone sering :p

        1. liat aja deh nanti

          ow ow, sakitnya tuh di sini /tunjuk hati
          haha, tapi seriusan ikut diklat itu asik loh ga boring. kapan lagi coba. ntar kuliah bakal kembali ke rutinitas yg itu-itu aja kan. oya, aku baru longgar tgl 24 sih jadi ya lumayan lama ._.

          wah sampe minang segala. km dr jawa tengah ya? /naikin alis

          1. okee amuu :3

            harus minum mastin biar ga sakit (?) :p
            diklat itu pendidikan latihan bukan? ._.
            haha nggapapa amu :3
            aku juga akhir2 ini lagi sibuk, ngurus2 kuliah lagi :v

            iyeppp, kok amu tahu? Amu darimana emang? O.o

            1. mastin mahaal :”D
              iya itu diklat, amu jadi panitia lapangan, pendidikannya udah mulai mei, dan musti latihan tiap hari menjelang acara tgl 21 agustus nanti.
              Eh km mulai kuliah tgl brp?

              Nebak aja sih. Aku jw timur, di bondowoso (meski lingkungannya madura sih)

              1. suruh beliin siwon+suho dijamin gratis amu :3
                haaaa?? O.o
                diklat itu khusus PNS bukan? soalnya mbakku juga pernah dilatih di diklat-nya semarang O.o
                awal september kakaakk :3

                haha kita sama2 jawa yah :3
                bondowoso? jadi inget cerita rakyat bandung bondowoso :3
                aduh, kenapa semua temen deket pada jatim semua yak. :3

              2. istilah diklat itu ngga cuman buat PNS kok, misalnya kamu ikut organisasi kan ada diklat/serangkaian acara sebelum kamu dilantik jadi anggota atau pengurus, bisa juga dibilang kaderisasi. jadi aku ikut kaderisasi buat jadi panitia acara ospek gitu ^^

                ooh, masih sebulanan lagi ya, santai dong

                kebanyakan orang yang tak temui juga bilang gitu padahal itu cuma nama tokoh dalam cerita rakyat…

                hahah, aku malah kebanyakan dari jakarta sama jateng ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s